Sabtu, 07 Februari 2015

Nhil

Ayolah, kita senda gurau. .
Di taman yang memukau
Kenapa kau diam,
Tak lihatkah aku yang telanjang. .

Tak lihatkah aku yang tenggelam.
Ah, semoga engkau tau kemana jalan pulang.

Minggu, 05 Oktober 2014

Botol bunga malam

Satu hari yang panjang menerpa diriku, angin berhembus kencang menggoyangkan rerumputan. aku duduk termenung di bangku taman kota, menyaksikan orang-orang berjalan tanpa henti. 

Dalam banyaknya orang di taman, terlihat wajah yang menyegarkan jiwa, wajah yang bersreri - seri membuat semua yang di sekitarnya nampak lebih indah. 

ingin aku sapa wanita itu, "Hay, , siapa namamu, ?" bolehkah aku berkenalan dengan mu ?" 

Andai saja aku punya keberanian yang lebih tinggi, akan aku tangkap senyum itu dan kusimpaa dalam agar aku dapat memandanginya setiap hari. Tapi aku tak punya kekuatan semacam itu, sepertinya tuhan lupa memberikannya atau aku saja yang tak tau bagaimana harus menggunakannya. 

Sudahlah pikirku, waktuku sudah habis jika cuma memikirkan ketidakmampuanku. Sebaiknya aku kembali fokus akan apa yang sedang ku kerjakan. 

(bersambung)

Minggu, 14 September 2014

Puisi

Tetap
Mereka memanjang
Teruraikan kata orang
                                Menjadi bisu dunia
Apakah engkau tau isi hatiku?
Wahai yang terletihkan
                                Wahai yang terlelehkan
                                Wahai yang mengabaikan
                                                                Aku tau
                                Dunia tak indah tanpamu
                Angin hanya ilusi ilmu
Oleh makhluk yang tak berilmu
Apakah engkau tau isi pikiranku?
Wahai yang terpanikkan
Wahai yang terkhawatirkan
Wahai yang terpikirkan
                Kau tau
                Debu adalah bagian dunia
                Ia meratakan semua yang ada
                Ia meruntuhkan semua ingatan
Apakah engkau terhalang?
Tembok badai menyelimuti hatimu
Dalam badai itu aku duduk
Tak hilang tetap

Minggu, 09 Maret 2014

Puisi

Aku
Tertuduk
Terbungkus
Termenung
Meninggalkan bagus dan gugus
Aku
Terlamunkan
Termurungkan
Menghilangkan jejak dan buruk
Seperti air
Aku yang terakhir

Telah berakhir

cerpen

Halte Bus  
Suara sirine mobil jenazah perlahan lahan terdengar, membuyarkan hujan yang turun untuk segera pergi, tapi hujan tak pergi, ia seperti anak kecil yang menangis meminta makan pada ibunya. Suara sirine itu semakin lantang terdengar memberikan tanda bagi orang-orang yang masih hidup agar memberinya jalan. Orang-orang pun mulai menggeserkan badannya, memberikan jalan bagi mobil jenazah yang sudah tak sabar untuk membawa tubuh kaku yang sejak tadi hanya tergeletak dan hanya menjadi tontonan orang­-orang yang lewat saja.
            Mayat itu tergeletak didepan sebuah toko perhiasan, toko yang dulu kukira adalah tempat untuk menonton pertunjukan binatang, karena ada besi seperti pagar yang menghalangi mereka. Lampu di toko itu sangat banyak sampai-sampai sinarnya keluar dan menyinari jalanan yang penuh dengan keramaian orang yang ingin berbelanja.
            Dari balik hujan aku menyeruak keluar, mencoba menembus kerumunan orang-orang yang mengelilingi mayat itu. Aku ingin tahu apa yang terjadi, dan mayat siapa yang dari tadi menjadi tontonan saja tanpa ada yang menolongnya. Aku terus mencoba menembus kerumunan orang-orang itu, tapi tak ada yang memberikan jalan untuk anak kecil seperti ku. Aku menyerah untuk tahu apa yang terjadi, aku lebih fokus mencari dimana kakakku berada, yang sejak tadi tak terlihat.
” Bukannya tadi abang menunggu disini,..kemana sekarang..?? “ tanyaku. " Apa mungkin ia sudah balik ke panti, tapi kan hujannya masih belum reda, apa ia ada dikerumunan orang-orang itu, sedang penasaran dengan mayat yang tergeletak itu."pikirku,
" Abang !!! Abang!!!.."aku mencoba memanggilnya dari kejauhan, melihat apakah ia mendengarku, tapi tak ada jawaban dari kerumunan itu, yang ada hanya orang-orang dengan tatapan sinis melihatku lalu mereka kembali memalingkan mukanya lagi.
"Abang !!.. Abang !! ..." suaraku semakin lantang kuteriakan, sampai habis keluar, tapi tak ada jawaban yang kuterima, aku hanya mendengar suara hujan dan suara dari bisikan orang-orang yang berjalan didepanku.
"Abang.. !!" kuteriakan lagi suaraku, tapi kini suara itu hilang dari balik hujan, suara itu tersisihkan dalam ramainya jalanan, tak ada yang peduli pada teriakanku, orang-orang ini hanya lurus berjalan tanpa tau bahwa ada seorang anak, disini mencari kakaknya.
            Aku menunggu di sebuah halte bus, halte yang sudah tak terpakai lagi. Karena sekarang, orang-orang lebih senang membawa mobil mereka sendiri, sekarang mereka senang berlama-lama di jalan raya, aku tak tau kenapa, mungkin karena di jalan raya ada banyak makanan yang tersedia atau mereka senang mendengarkan suara klakson mobil yang ada disekeliling mereka. Ya, mereka mungkin senang dengan bunyi klakson mobil yang tiada henti, silih berganti meramaikan jalanan ini.
            Kursi halte ini ini sudah rusak, tak bisa lagi menopang orang yang ingin duduk diatas, tak bisa lagi memuaskan kelelahan orang karena berdiri sejak tadi. Aku pun hanya berdiri saja berharap abangku muncul dari balik hujan. Berharap ia cepat datang agar kami tak menjadi bahan penyiksaan oleh pengawas panti karena telat menyerahkan uang kerja kami.
            Tahu dan pisang goreng yang sejak tadi ku pegang mulai dingin dan ia mulai mengeluarkan minyak, sehingga membuat kertasnya lapuk termakan minyak. Aku membelinya di seberang jalan dekat pohon tua, aku tak tau nama pohon itu tapi ia adalah pohon yang membuat seberang jalan itu menjadi teduh ketika panas di siang hari.
            Aku masih mencari abangku yang hilang entah kemana, ketika kerumunan orang orang itu mulai tercerai beraikan oleh hujan yang mulai reda, dan mayat itu pun mulai tampak terlihat jelas. Disana kulihat terbaring lesu tubuh seorang pemuda, tubuh yang masih menyisakan darah dan kulit yang membiru seperti langit di siang hari, mukanya memar seperti disengat tawon, tinggi dan besar tubuhnya seperti abangku sekitar satu setengah meter, baju dan celananaya sudah robek tercabik cabik seperti di mangsa binatang buas.
Mayat itu mengingatkanku pada abangku yang sekarang tak muncul muncul juga, Ia selalu berusaha keras untuk memberiku makan, kami hanya hidup berdua, orang tua kami meninggalkan kami di panti asuhan pada saat aku berumur enam tahun dan Abangku yang baru berumur sepuluh tahun. di panti asuhan bukan rumah yang kami temukan, bukan juga keluarga yang kami harapkan tapi sebuah perbudakan modern yang nafsu akan uang. Yang kami lakukan setiap hari hanyalah mencari belas kasih orang lain yang rela menyisihkan hartanya pada kami, jika satu hari saja kami tak dapat uang maka tak ada jatah makan untuk kami, kepala panti sangat keras, ia adalah seorang wanita paruh baya, berpakaian sangat bagus dan perhiasan emas selalu melingkar di tangan dan lehernya, perhiasan-perhiasan itu bagaikan ular yang tak bisa lepas dan siap menggigitkan bisanya, ia menjadikan kami alat untuk mencari uang, kami berusaha diam karena jika kami berbuat apapun yang tak disukainya, kami akan dipukuli tanpa ampun, begitupun jika salah satu dari kami mencoba melarikan diri , kami akan bernasib seperti mayat yang dari tadi kulihat.
Semakin hari penjaga panti itu semakin semena mena, sedikit salah yang kami lakukan, maka cambuk dari tangannya sudah sedia menggigit, layaknya harimau yang kelaparan menemukan mangsa. Aku dan abangku berusaha untuk tak kembali ke panti itu, tapi orang-orang suruhan wanita itu selalu saja menemukan kami, mereka seperti ada di mana-mana, seperti burung elang, selalu mengawasi dari balik awan, pandangannya tak pernah lepas dari mangsanya. Kemana pun kami pergi, pesuruh-pesuruh itu pasti datang dan meminta uang dari kerja kami.
Kami harus pasrah pada hidup kami, inilah jalan hidup yang telah tuhan berikan pada kami, kami harus menerima bahwa sebagai yatim kami tak boleh bermimpi untuk dapat di rumah yang enak atau bahkan sekolah, kami hanyalah sebuah alat agar orang-orang yang baik hatinya mau menyumbangkan uangnya pada panti kami, uang yang tak pernah kami nikmati.
Hujan sudah reda, ia kini menyisakan genangan-genangan air di sudut-sudut jalan dan di lubang-lubang jalanan. Orang-orang mulai kembali melanjutkan perjalanan mereka, mereka kini buyar entah hendak kemana, mereka  seperti air hujan yang jatuh tak tentu arah. Aku masih menunggu abangku muncul dari kejauhan, tapi yang terlihat olehku hanyalah kendaraan yang lalu lalang entah hendak kemana, mereka membuat jalanan ini tak pernah sepi. Mobil jenazah itu kini mulai siap berangkat dengan membawa mayat kaku itu, ia meraungkan suaranya lagi, suara yang menjadi tanda agar tak ada yang menghalangi jalannya. Ia seperti raja dari sebuah kerajaan yang sering ku baca dari buku-buku yang ku temukan di tong sampah. Ketika ia lewat, maka menyingkirlah semua orang, tak da yang menghalangi. Bagi yang menghalangi siksaanlah yang jadi hukumannya.
Walaupun jalanan macet tapi mobil jenazah itu tetap melaju menembus kerumunan mobil yang sejak tadi hanya terdiam. Setelah  mobil jenazah itu pergi, orang-orang mulai membicarakan tentang mayat itu. Aku hanya mendengar sedikit saja dari percakapan mereka, aku mendengar mereka membicarakan tentang pengamen jalanan, lalu mereka menyebut tentang seorang anak bercelana hitam memakai baju yang kumuh dan seperti tak terurus membawa bawa ukulele kecil di tangannya. Ia dituduh mencuri sesuatu di toko itu, kemudian orang-orang disana serentak saja memukulinya sampai ia kini menjadi mayat.
Aku sontak tersadar dan ingat akan abangku yang membawa ukulele untuk kami mengamen, dan ciri-cirinya sama persis, lalu dengan sekuat tenaga aku kejar mobil pembawa jenazah itu, tapi mobil itu sudah jauh pergi, jauh meninggalkan       jalan ini, jauh meninggalkan aku sendirian. Aku masih mencoba mengejar mobil itu mengejar harapan bahwa bukan abangku yang tergeletak di dalamnya, tapi air mataku menetes sedikit demi sedikit, dan akhirnya mengalir deras membasahi pipiku setelah mobil itu menghilang entah kemana. Kini yang tersisa hanya jalanan sepi dan aku yang sedang menagis mengaung-ngaung karena tak ada lagi abang yang menjagaku.
Hujan kembali deras seperti tangisanku, meronta-ronta berbaur dengan percikan hujan, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku kini hanya seorang anak yang harus menghadapi dunia dalam kesendirian.
Aku bertanya tanya apa yang dilakukan abangku sehingga orang-orang tega memukulinya sampai ia mati, akan aku kutuk mereka yang membuat abangku mati, membuat aku sendiri, tapi aku hanya bisa mengutuk mereka saja tanpa ada yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa menyimpan kemarahanku dalam hati saja.
Aku kembali kehalte itu, menenangkan diri, memehami apa yang terjadi. Mencoba mencari tahu kenapa abangku mati, aku bertanya pada orang orang yang ada di tempat itu, tapi mereka hanya menjawab acuh, mereka bilang abangku mencuri makanan, apakah mati adalah hukuman yang pantas untuk orang yang mencuri? Apakah itu hukum yang ditegakan di negeri ini? Apakah agama mengajarkan hal itu? Apakah mereka tak punya rasa kasihan pada orang-orang seperti kami? Orang-orang seperti abang, ,
Aku kembali mengutuk mereka, kini aku keluarkan suaraku yang terpendam sejak tadi, “ dimana abangku? Kenapa kalian memukulinya? Kenapa kalian membunuhnya…? “ petanyaan pertanyaan itu keluar dari mulutku dengan lantang, tapi tak ada jawaban, ia terbuyarkan hujan, ia menghilang dalam kerumunan orang-orang itu, orang-orang yang memandang sinis ucapanku, orang orang yang sudah hilang hati mereka.
Bajuku kini sudah basah oleh air hujan, begitu juga wajahku, sudah basah bukan oleh hujan tapi air mata yang sekarang hampir habis. Aku kembali duduk dan mencoba diam karena air mata yang sudah kering ini mulai kembali datang, aku kemudian masuk kedalam pikiranku sendiri, mencari-cari kenangan, mencari cari bagaimana abangku sekarang, apakah ia tenang sekarang? Apakah ia bahagia sekarang? Mungkin ia senang karena tak merasakan penderitaan lagi…
Aku masih terjebak dalam pikiranku, masih membuat bayang-bayang tentang keadaan abangku, tapi semakin aku memperjelas bayangan tersebut, air mata yang tadi kering dan kutahan-tahan agar tak keluar, kini semakin deras ia keluar, semakin aku mengutuk orang-orang itu.
Hujan dijalan ini pun semakin deras, semakin membanjiri jalan. Dan aku yang sejak tadi tak bergerak dihalte ini, kini telah jatuh dalam pikiranku sendiri. Kini, aku telah menikmati keadaan ini dan tak ingin kembali, biarlah aku menyusul abangku…….